TUAH DAN MANFAAT DEWANDARU

Dewandaru atau Ceremai belanda adalah tumbuhan tahunan yang berbentuk pohon dan berukuran sedang, tingginya antara 2-5 m. Daunnya tunggal, pangkalnya meruncing, tepinya rata, pertulangannya menyirip, berlapiskan semacam lilin, dan berukuran panjang. Daun mudanya berwarna merah tua.

Bunganya berwarna kuning susu, dan berukuran kecil-kecil. Buahnya yang sudah masak, berwarna merah tua-hitam, dan berbentuk bulat dan berlekuk-lekuk. Bijinya kecil, keras, dan berwarna coklat. Sementara itu, akarnya tunggang dan berwarna coklat.

Tumbuhan ini berasal dari wilayah pantai timur Amerika Selatan yang beriklim tropis, yang tersebar mulai dari Suriname, Guyana Prancis, hingga wilayah selatan Brasil, juga sebagian besar dari Paraguay, Argentina, Uruguay, dan negara-negara di wilayah Karibia. Di daerah asal dan menyebarkannya, dewandaru dikenal dengan nama pitanga, ceri suriname, ceri brazilian, cayenne cherry, atau cerisier carré.

Di Bermuda, seperti ikutip dari Wikipedia, tumbuhan yang diintroduksi dari Suriname sebagai tanaman hias dan tanaman pagar ini, pengembangan biak menjadi tidak terkendali, dan kemudian dianggap sebagai tumbuhan pengganggu. Di Suriname, tanaman yang digunakan sebagai tanaman pelindung atau tanaman pagar ini disebut monkimonki kersie, atau juga montjimontji kersie.

Di Indonesia, pohon dewandaru dikenal juga sebagai asem selong, belimbing londo, ceremai londo, atau cereme asam. Selain itu di negeri kita ini lebih mempercayai tentang banyak mitos yang melingkari tanaman ini dari khasiatnya. Pohon dewandaru disebut-sebut memiliki kekuatan gaib. Bahkan kayunya yang diolah menjadi aneka produk kerajinan, di bawa tongkat dan tasbih, yang menjadi buah tangan terkenal khas Pulau Karimunjawa di Jawa Tengah, pun dianggap bertuah.

Dewandaru mudah tumbuh. Wikipedia mengutip tumbuhan ini relatif tahan hama dan mengandung antioksidan yang tinggi.

Buah dewandaru dapat dikonsumsi langsung. Rasanya asam sampai manis, tergantung pada tingkat kemasakan dan kultivarnya. Buah yang merah gelap kehitaman, memiliki rasa manis. Buahnya kaya vitamin C dan sumber vitamin A ini dapat dimanfaatkan menjadi selai atau diolah menjadi jeli.

Dewandaru telah mempertimbangkan sebagai bahan penelitian yang penting, mengingat penelitiannya yang panjang sebagai obat tradisional. Minyak esensialnya adalah antihipertensif, antidiabetik, antitumor, dan analgesik. Hasil penelitian bahkan menunjukkan khasiatnya sebagai antivirus dan aktivitas antijamur. Minyak esensial dewandari mampu menangkal mikroorganisme seperti Trichomonas gallinae (in vitro), Trypanosoma cruzi , dan Leishmania amazonensis .

Daun tanaman dewandaru, kutipan dari buku Hutapea, mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Flavonoid dari ekstrak daun mengandung mirisetin, mirisitrin, gallokatekhin, kuersetin, dan kuersitrin, berdasarkan penelitian G Schmeda-Hirschmann dan tim yang sesuai pada 1987. Penelitian tahun 2000 mendapati jenis tannin yang diisolasi dari fraksi aktif Eugenia uniflora antara lain gallokatekhin, oenothein B, eugeniflorins D (1) dan D (2).

Di Paraguay, hasil rebusan daun dewandaru digunakan untuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Selain itu, dapat menurunkan kadar lipid dan dapat digunakan sebagai efek proteksi pada trigliserida dan kadar lipoprotein yang sangat rendah, berdasarkan penelitian E Ferro dan tim yang menggunakan di Journal of Ethnopharmacology pada 1988.

Penelitian Bandoni dan tim pada tahun 1972, seperti dikutip dari studi Cancer Center Research Cemoprevention mengutip buah dan daun dewandaru digunakan sebagai peningkat kualitas astringent dan mengurangi tekanan darah tinggi.

Dalam laporan pengobatan tradisional Brasil menurut catatan studio Consolini dan tim yang dilakukan pada tahun 2000, pengambilan buah dewandaru digunakan sebagai antidiare, diuretik, antirematik, anti-demam, dan antidiabetik. Selain itu, ekstrak daunnya juga sebagai agen hipotensif. Studi yang dilakukan T Matsumura dan tim pada tahun yang sama menyebutkan dewandaru menambah tingkat trigliserida dan meningkatkan plasma.

Hutapea dalam bukunya menyebutkan daun dewandaru sebagai obat tradisional berkhasiat sebagai obat mencret. Sementara itu, Scapoval dan tim pada tahun 1994 mempublikasikan temuan daun dewandaru memiliki khasiat aksi anti inflamasi yang tinggi.

Daftar Pustaka
Wikipedia
satuharapan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s