Gerak Dasar Seni Bonsai (1)

Bonsai adalah bagian dari seni. Tanpa mengurangi idealisme dalam pencapaian seni, bonsai tetap mempunyai nilai estetika sendiri. Mempunyai nilai materi yang relatif tinggi. Bahkan dengan melihat pedoman perbonsaian, mampu meningkatkan ketajaman seni, sekalipun oleh pebonsai pemula.

Namun demikian dalam dunia bonsai, masih banyak yang menilai bonsai sebagai suatu buah karya seni yang dilihat sebagai estetika tanpa ada partisi atau aturan baku.

Esensinya pembentukan bahan bonsai memiliki tahapan bentuk untuk dapat menghasilkan sebuah karya yang mempunyai dimensi, perspekstif, dan komposisi.

Berikut penjelasan singkat mengenai dimensi, perspektif dan komposisi :

DIMENSI

Secara secara umum adalah ruang yang ditempati oleh fisik suatu benda. Kita mengenal benda tiga-dimensi dan dua-dimensi. Suatu benda disebut 3-dimensi bila fisik benda tersebut menempati ruang dalam tiga orientasi berupa tinggi, panjang dan lebar (cont.: Bonsai); dan suatu benda disebut 2-dimensi bila fisik benda tersebut hanya menempati dua orientasi ruang, contohnya lukisan yang hanya menempati dua orientasi ruang.

Bonsai memiliki objek 3-dimensi yang kita nikmati atau kita pandang dalam konteks 2-dimensi karena kita selalu tentukan satu sudut tertentu sebagai “depan”. Saat kita menentukan cabang untuk membentuk dimensi, tujuannya adalah untuk membentuk orientasi tinggi rendahnya cabang, panjang pendeknya serta orientasi lebar ke seluruh arah.

Tetapi dalam penataan 3-dimensi tersebut, kita harus mampu membentuk sehingga tata-letaknya dapat membentuk suatu “perspektif” yang merefleksikan keharmonisan saat kita melihat bonsai tersebut dari satu sudut pandang tertentu atau dengan sebelah mata (2-dimensi), atau hasil foto; karena objek bonsai tersebut berada dalam suatu bingkai sempit yang membatasi pandangan kita saat kita memandang dari depan (satu titik pandang). Oleh sebab itu, sering ada bonsai yang apik saat dilihat langsung, tetapi kurang indah saat difoto.

Saat kita membentuk ranting dan daun untuk garis canopy, yang kita perhatikan adalah bagaimana menyusun ranting, anak ranting serta daun supaya menciptakan suatu tata ruang yang harmonis dan berimbang saat kita memandang bonsai tersebut dari sudut pandang tertentu dalam suatu bingkai pandang.

Demikian juga saat kita meletakkan bonsai tersebut pada wadah tanamnya, sebenarnya yang kita ciptakan adalah keharmonisan dan keseimbangan penampilan, bukan saja dalam pandangan 3-dimensi, tetapi juga pada pandangan datar yang di dalam seni lukis disebut “Picture Plane”.

Bila kita membuat sebuah karya bonsai gaya grouping dengan susunan perbukitan, batu-batuan, sungai atau jalan setapak, di sini kita dituntut untuk menguasai hukum perspektif supaya tata ruang dalam wadah yang sempit tersebut tetap dapat mencerminkan panorama yang terkesan mempunyai kedalaman yang lebih jauh.

PERSPEKTIF,

Merupakan pandangan kita terhadap suatu objek yang kita lihat dalam bentuk 2-dimensi. Secara sederhana bisa diilustrasikan, Bila kita melihat dengan 2 belah mata sebuah pemandangan danau dengan gunungnya, efek yang kita lihat adalah 3-dimensi ; tetapi bila kita tutup sebelah mata kita dan hanya melihat dengan sebelah mata, maka efek pemandangan yang kita lihat adalah 2-dimensi dan kesan jarak antara danau dan gunung yang kita persepsikan adalah perspektif belaka karena kita kehilangan orientasi lebar. Demikian juga yang kita lihat dalam foto atau lukisan.

Jadi perspektif adalah persepsi ilusi orientasi kedalaman ruang dalam bidang pandang 2-dimensi, atau rekayasa ilusi untuk menciptakan persepsi ruang yang lebih dalam dari yang sebenarnya pada objek 3-dimensi.

Hukum perspektif : “ Semakin menjauhnya suatu objek, maka akan semakin mengecil hingga pada titik di mana objek tersebut menghilang – disebut “Vanishing Point” (VP) di mana dari titik tersebut ditarik garis linearnya. Garis horizon (Horizon Line) juga sangat mempengaruhi perspektif, semakin rendah letak Horizon Line (HL), objek akan semakin terkesan tinggi dan monumental. Konsep tersebut berlaku untuk seni Bonsai pada tinggi rendahnya titik pandang kita, dan hal ini berpengaruh langsung pada pengaturan dimensi serta komposisi cabang dan ranting.

Kita sering memakai istilah “nge-pen“ dalam menjelaskan bentuk batang yang mengecil dari bawah ke atas pada sebuah Bonsai, kemudian menurut text-book, ukuran cabang harus semakin mengecil ke bagian atas dan letaknya juga harus semakin mendekat. Apa maksud dari aturan tersebut ?

Salah satunya adalah alasan hukum perspective, dengan asumsi kita selalu melihat pohon dari bawah ke atas pada jarak yang relatif dekat, sehingga letak dan jarak setiap cabang mulai dari bawah ke atas akan kelihatan semakin mendekat dan ukuran batang akan kelihatan semakin mengecil ke atas.

Temuan “Curvilinear Perspective” sangat berguna bagi seni Bonsai karena wadah tanam Bonsai sangat sempit dan bingkai pandang kita sangat terbatas terutama dalam tehnik gaya Grouping.

Dengan teori “Curvilinear Perspective”, penataan dapat dimanipulasi dengan distorsi sudut pandang sehingga efek pandangan terkesan luas dan kedalaman terkesan lebih jauh. Efek tersebut sama dengan bila kita memotret dengan memakai lensa “wide angle.

KOMPOSISI

Yaitu tata letak dan susunan satu atau beberapa objek dalam suatu ruang tertentu; ruang tersebut bisa dalam bentuk 3-dimensi atau 2-dimensi.

Komposisi pada seni bonsai, sama juga dengan seni lukis yang percaya bahwa konsep asimetris tetapi berimbang adalah bentuk yang paling dinamis dan tidak membosankan, termasuk teori komposisi “Dramatic Diagonals”; demikian juga bingkai pandang yang dikenal dengan rumus “Golden Rectangle”. Dalam hal ini, “Visual Balance” yang dicari.

Sebenarnya saat kita training cabang dan ranting, terutama bonsai Cina gaya “Lingnan”, sering sekali diterapkan teori “Cuvilinear Composition” untuk mendramatisir suatu gaya secara alamiah.

Kemudian untuk menjadikan tanaman berkesan tua, tentu harus mempunyai bagian yang mati, tapi tetap menempel. Di bagian ini tentu akan memberikan kesan tua yang kental, apalagi bila dilakukan penghalusan untuk memunculkan warna alami kayu. Hindari penggunaan cat, karena juri akan memberikan catatan khusus. Selain itu, melakukan penempelan batang mati untuk memberikan kesan tua masih belum diijinkan.

Keseimbangan optik di sini jelas mengutamakan kemudahan dalam melihat bonsai. Artinya, bentuk keseluruhan tanaman tidak ada kejanggalan. Jadi, sangat penting untuk memperhatikan tajuk berdasarkan sinar matahari. Di sini tajuk yang terkena sinar langsung harus lebih besar dibandingkan yang tertutup.

Selanjutnya adalah gerakan batang yang akan mencirikan dimana dia tumbuh, sehingga tak sekedar mengolah gaya, tapi harus berdasarkan hukum alam. Contohnya, untuk tegak lurus harus mencirikan tumbuh di wilayah yang luas, sehingga cabang dan ranting punya gerakan lebih bebas.

Bonsai sebagai karya seni, mau-tidak-mau harus memberikan pesan yang menyesuaikan dengan kondisi fisiologisnya. Contohnya, bonsai yang hidup di daerah gersang harus mencirikan kesulitan mendapatkan air. Begitu juga untuk daerah yang subur, maka tanaman harus terlihat gemuk dan sehat.

Bersambung ke bagian 2

Dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s